GINTUNG, RUMAH KEDUAKU...

Hari Jum’at, tanggal 27 Maret kemarin aku dikejutkan dengan pemberitaan jebolnya tanggul penahan aliran Situ Gintung. Kenapa terkejut? Sebab sebagian usiaku pernah dihabiskan di sana, kurang lebih 4 tahun. Dulu aku kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan selama kuliah, aku tinggal (kost) di Gintung. Kost-anku terletak tepat di pinggir Situ Gintung (di sebelah tempat yang jebol). Jadi, aku tinggal di daerah yang memiliki pemandangan dan suasana yang elok. Bagi masyarakat sekitar, Situ Gintung memang memiliki daya tarik tersendiri hingga tidak mengherankan jika setiap malam Minggu banyak anak muda-mudi berpacaran di situ. Tapi, kini sudah 2 tahun aku kembali ke kampung halaman di Purwokerto, jadi hanya tinggal kenangan yang tersisa tentang Situ Gintung.
Situ merupakan bahasa Betawi yang berarti Danau, sedangkan Gintung merupakan nama tempat di mana danau tersebut berada. Jadi Situ Gintung bermakna; Danau yang terletak di Gintung. Situ yang membentang dari Gintung hingga ke Ciputat ini dibangun pada tahun 1933, pada masa kolonial Belanda yang berfungsi sebagai penampung curah hujan sekaligus daerah resapan air. Mungkin disebabkan usia yang memang sudah uzur atau mungkin karena keserakahan manusia, akhirnya pada tanggal 27 Maret 2009 jebollah Situ tersebut.
Pertama kali dibangun, Situ Gintung tidaklah sesempit sekarang. Dulu luasnya sekitar 31 hektar, tetapi sekarang hanya tersisa sekitar 21 hektar saja. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena kerakusan manusia yang membangun tanpa memperhatiken keseimbangan ekosistem alam. Akibat ketidakseimbangan tersebut, menyebabkan terjadinya bencana yang merugikan harta benda dan nyawa.
Dulu setiap kali Situ Gintung kelebihan air akibat hujan, maka semua Spill Way atau jalan pembuangan akan bekerja dengan baik. Di Gintung sendiri pada tempat yang jebol terdapat 3 Spill Way, yakni 2 di masing-masing pojok tanggul dan 1 di tengah-tengah. Jika air meluap, maka air mengalir melalui ketiga Spill Way tersebut menuju ke sawah dan sungai-sungai yang ada di sekitarnya. Tetapi, kini sudah tidak lagi ada sawah sebagai tempat penampungan luapan. Sawah-sawah tersebut sudah dijadikan perumahan mewah dan hunian lainnya yang berakibat hilangnya tujuan pembuangan air. Hal itu diperparah dengan kurangnya perhatian pada perawatan ketiga Spill Way tersebut. Dari 3 Spill Way, yang masih benar-benar berfungsi hanya 1, yakni yang di tengah, sedangkan Spill Way lainnya memang masih berfungsi, tapi tidak selancar dan sebaik Spill Way yang di tengah.

Selain itu, di sisi Situ Gintung di daerah aliran Spill Way yang tengah tersebut sudah banyak didirikan rumah, yang mengakibatkan semakin sempit jalur Spill Way. Padahal, daerah tersebut tempatnya lebih rendah sekitar 30 meter daripada ketinggian Situ Gintung. Jadi, orang-orang yang tinggal di sisi Situ, sebagian berada lebih rendah 30 meter daripada ketinggian Situ tersebut. Bisa Anda bayangkan bagaimana curahan air deras menghantam pemukiman mereka, hingga menyebabkan korban yang tidak sedikit jumlahnya.
Menurut teman aku yang masih tinggal di Gintung, yakni Mas Suprapto, orang-orang yang tinggal di tepi Situ sebagian besar selamat. Sebab, ada alarm yang meraung-raung memberi tahu warga ketika Situ akan meluap. Selain itu, karena dekat dengan Situ, maka mereka sudah bisa memperkirakan apakah Situ akan jebol atau tidak. Bahkan, temanku itu tidak tidur semalaman karena harus berjaga-jaga dengan penduduk sekitar sambil memberitahu orang-orang yang tinggal di sekitar Situ.
Sayangnya, orang-orang yang tinggal jauh dari Situ tidak mengetahui kondisi sebenarnya. Selain itu mereka tidak mendengar adanya bunyi alarm yang berbunyi karena masih terlelap tidur. Hingga pada akhirnya, ketika air meluap, mereka hanya bisa pasrah tanpa sempat menyelamatkan diri. Kejadian yang terjadi pada waktu subuh itu dengan segera meluluhlantakkan apa-apa yang dilewatinya.
Rumah pertama kali yang menjadi korban jebolnya Situ Gintung adalah rumah milik Pak Mulyadi, yakni orang yang memiliki kost-an yang dulu kutempati. Padahal rumah tersebut begitu belum lama dibangun, tapi ikut terseret arus air bah. Setelah itu, kontrakanku pun tidak luput kena terjangan air bah hingga terbelah separuh. Yang belakang sudah hilang terseret air, sementara yang depan masih utuh. Padahal kost-an itu berlantai dua.
Beruntung orang-orang yang mendirikan Sholat Subuh. Ketika sedang bersiap-siap sholat, mereka melihat kedatangan air dan masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Bahkan, muadzin yang sedang adzan di masjid dekat Situ Gintung menghentikan adzannya ketika baru sampai pada lafaz; hayya ‘alas shalah.... Mereka segera berlari ke lantai dua masjid tanpa mampu menyelesaikan adzan. Dan atas kebesaran Allah semata, masjid tersebut selamat dan hanya mengalami kerusakan sedikit. Padahal, rumah-rumah di sekitar masjid rusak hingga rata dengan tanah.
Calaka bagi orang yang tidak mendirikan Sholat Subuh. Mereka yang pulas tidur tidak menyadari ketika air datang dengan tiba-tiba merenggut nyawa mereka. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat. Na’udzubillah.
Selain meluluhlantakkan rumah-rumah penduduk, luapan air Situ Gintung pun tidak luput menerjang kampusku, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Padahal, jarak antara kampus dengan Situ Gintung sekitar 1 kilometer. Kulihat di tv, ketika kampusku diterjang air luapan yang melnghancurkan apa-apa yang dilaluinya. Bus kampusku terguling, kayu-kayu berserakan, pos keamanan rusak, ruangan perpustakaan yang berada dilantai satu pun rusak. Belum lagi kerusakan-kerusakan lainnya, seperti hancurnya komputer serta hilangnya data-data penting dan lain-lain.
Sebetulnya aku ingin sekali melihat kondisi kampusku dan sekitar Situ Gintung. Tetapi, dengan jauhnya jarak yang membentang antara Purwikerto-Jakarta serta kesibukan lainnya, akhirnya aku hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut melaluii tv. Kulihat orang-orang yang kukenali tampil di tv, seperti Pak Sudaya, Bang Bongas, Mak Enah, Pak Rahmat Salim, Rektor UMJ, Ibu Masyitoh, Pak RT, dll.
Akhirnya, aku hanya bisa mendoakan dari jauh semoga Allah memberikan ketabahan dan kemudahan pada mereka yang ditimpa musibah. Semoga Allah memberikan pahala pada mereka yang ditimpa musibah tapi tetap sabar dan tawakal. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka yang meninggal dunia karena ditimpa bencana, Amin.
Musibah telah terjadi, tidak sepantasnya kita menyalahkan pihak manapun. Sekarang yang harus kita lakukan adalah pembenahan agar musibah tersebut tidak terulang kembali, baik di Gintung maupun di daerah lainnya. Kita juga harus introspeksi akibat musibah tersebut. Sebab Allah menurunkan musibah tidak lain karena tiga perkara, yakni:
1.Sebagai ujian
2.Sebagai peringatan
3.Sebagai azab
Allah akan memberikan ujian bagi siapapun yang beriman kepadanya. Ujian tersebut hanya berfungsi sebagai bukti cinta kasih-Nya pada manusia. Sebab, bagi orang-orang yang beriman, ujian dari-Nya merupakan media untuk mempertebal keimanan di dalam dada.
Musibah pun bisa merupakan peringatan, baik bagi orang-orang yang beriman maupun yang ingkar. Jika ada orang beriman yang lalai melakukan kewajibannya, maka datanglah peringatan dari-Nya untuk mengembalikan keimanan dan ketakwaannya seperti semula. Bagi orang yang ingkar, peringatan bertujuan agar mereka segera meninggalkan keingkaran yang mereka lakukan dan mengubah perilaku mereka agar menjadi lebih baik.
Musibah berlaku sebagai hukuman, jika orang-orang di sekitarnya sudah sangat ingkar pada ketetapan-ketetapan-Nya. Mereka tidak mau lagi menepati perintah-Nya maupun mendengar seruan-Nya melalui kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Mereka sudah tidak mempan diberi peringatan oleh Allah, hingga akhirnya peringatan tersebut berubah menjadi azab yang menimpa dirinya. Sudah sepantasnyalah azab tertimpa atas mereka, agar orang-orang seperti mereka lenyap dari muka bumi. Na’udzubillah min dzalik...
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilayhi raaji'uun." (Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali). (QS 2: 155-156)
31 Maret 2009

0 komentar:

Posting Komentar

Most Read

Pengunjung

Follow

Hak Cipta Dilindungi AlLah swt. Tidak Dilarang Keras Mengcopy Isi Blog Ini Asal Sumber Disebutkan
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates