Awal Perpecahan Rhoma Irama & Elvy Sukaesih

Persaingan dagang antara Remaco dan Yukawi makin meruncing. Mereka saling tuntut & saling tuduh. Tuntutan juga diarahkan pada penyanyi Oma Irama dan Elvy Sukaesih.


PERSAINGAN dagang antara perusahaan perekam PT Remaco dan PT Yukawi kian meruncing, dan terakhir, musuh bebuyutan ini mulai saling 'berkelahi' di muka hakim, sambil dalam beberapa hal baru mereka saling melaporkan kepada polisi. Sejak akhir tahun lalu hingga kini, sedang berlangsung gugatan ganti oleh Remaco atas Yukawi.


Yang terakhir ini telah dituduh mencemarkan nama baik, yang mengakibatkan "PT Remaco terancam bangkrut" -- seperti kata pihak penggugat. Untuk perkara ini Remaco tidak tanggung-tanggung menuntut ganti rugi, Rp 500 juta. Yukawi pun tidak diam. Ia sudah mengajukan tuntutan juga dengan mempersoalkan bahwa penyanyi Elvy Sukaesih telah direbut Remaco sementara yang bersangkutan masih dalam ikatan kontrak. Remaco dituntut agar membayar ganti Rp 30 juta. Sedang Elvy, yang kini sedang membuat rekaman-dengan Remaco juga dituntut ganti rugi Rp 22,5 juta.


Sebab, menurut kontrak, Elvy seharusnya menyanyi untuk Yukawi senilai kontrak Rp 30 juta selama masa kontrak tiga tahun. Saya Elvy mengaku terus terang, ia lebih tertarik dengan cara kerja Remaco yang sudah berulang kali menawari kontrak dengan imbalan empat kali lipat dari Yukawi. Dengan begitu, ia sebenarnya sudah ogah menyanyi dengan Oma untuk album Rupiah rekaman Yukawi --kecuali, tentu, jika perusahaan ini mau meningkatkan bayarannya. Lalu bagaimana dengan kontrak yang sudah terlanjur ditekennya? "Saya berulang kali didesak Yukawi untuk menandatangani pembaharuan kontrak" bela Elvy. Bersamaan dengan penandatanganan itu, Yukawi menyodorkan persekot Rp 1 juta. "Saya tolak", lanjut Elvy, "sebab suami saya belum tahu duduk soalnya".


Elvy mengaku, untuk setiap kontrak ia selalu harus mendapat persetujuan dari suaminya lebih dahulu. Soal kontrak dan apakah terjadi pengingkaran di dalamnya, pengadilanlah yang nanti akan menentukan. Menjelang akhir bulan Januari kemarin Remaco menambah jumlah perkara ia membuat pengaduan ke polisi. Yang diadukan adalah Oma Irama, penyanyi dangdut yang selama ini banyak membuat keuntungan bagi perusahaannya. Oma dituduh telah mengingkari kontrak kerja. Penyanyi ini diperiksa ala kadarnya oleh polisi -- tidak masuk tahanan seperti diberitakan sebelumnya.


Sementara diperiksa polisi, di luar timbul pernyataan baru bernada lama: "Persoalan Oma dengan Remaco, yang menyangkut soal kontrak kerja perdata, tidak seharusnya menjadi perkara kriminal yang diurus oleh polisi segala", kata Y. Sibarani SH, penasehat hukum penyanyi angkatan terakhir ini. Sibarani mencoba menjelaskan duduk soalnya sepintas lalu. Sepanjang tahun 1974 memang ada perjanjian antara Oma dan Remaco untuk merekam 4 LP. Tanggal 1 Juni tahun berikutnya, sementara Oma sudah terikat dengan Yukawi sepanjang tahun 1975, Remaco mendesak Oma agar merekam 3 LP lagi ditambah 2 LP lagu lama yang sudah pernah populer.


Demi hubungan baik, kira-kira begitu, Yukawi tampaknya tidak keberatan. Jadilah Oma bekerja sama kembali dengan Remaco. Hanya, menurut Oma, tanggal kontrak 3 LP baru dan 2 LP 'The Best of Oma Irama' disesuaikan dengan kontrak sebelumnya yang dibuat tahun 1974. Sehingga lengkapnya bunyi kontrak itu lebih kurang: Oma harus merekam 7 LP untuk tahun 1974 -- tidak disebut sama sekali bahwa, yang 3 LP itu hasil perjanjian susulan. Berahi Nafsu Namun, sambil menunggu apa kata pengadilan -- bila perkara ini diteruskan -- Oma tidak tinggal diam.


Tuduhan Remaco dianggapnya jadi soal serius. Oma, 2 Januari 1976 membuat pengaduan pula kepada polisi. Remaco dituduh telah menyerang nama baiknya. Ditunjuknya iklan di beberapa surat kabar bulan Januari yang ditandatangani Eugene Timothy (Direktur Remaco) dan M. Dharto Wahab SH penasehat hukumnya), yang menuduh: "Oma Irama Pimpinan OM Soneta telah mengkhianati janjinya sendiri terhadap PT Remaco". Yaitu membuat rekaman untuk Yukawi, padahal masih terikat pada kontrak Remaco. Perkara ini, sama juga seperti pengaduan pihak Remaco, telah ditangani oleh polisi Jakarta.


Masih belum selesai, Oma Irama dan Yukawi balik lagi bikin perkara baru mereka menuduh Remaco telah berdagang secara curang dan 'mencuri' lagu-lagu ciptaan Oma yang direkam oleh Yukawi. Terjadinya sekitar bulan November tahun lalu, ketika ada seseorang -- yang dekat dengan penyanyi Oma Irama -- yang 'menjual' master-cassette album Rupiah kepada Remaco dengan harga Rp 200 ribu. Kaset-kaset pada album tersebut sebenarnya sudah siap diedarkan oleh Yukawi. Oma mengetahui 'pencurian' ini dari isterinya, Veronica, yang melaporkannya ketika ia sedang berada dalam karantina haji.


Oleh Remaco, lagu-lagu Oma itu lalu beredar dengan judul dan lirik yang berbeda. Lagu Rupiah oleh Remaco diubah menjadi Uang, Birahi menjadi Nafsu, Hello-hello menjadi Apa Kabar, dan Dendam menjadi Benci. Remaco memang menyodorkan kwitansi Rp 250 ribu kepada isteri Oma Irama. "Tapi tak jelas maksudnya", kata Oma, dan katanya cuma titipan saja. Soal master-cassette itu sendiri pengacara Dharto Wahab tidak banyak membantah. Hanya soal lagu Uang itu sendiri dipertimbangkannya bukan sebagai pembajakan lagu, tapi sekedar "jawaban atas lagu Rupiah saja". Ramai-ramai orang dagang.

Source: MBM Tempo 1976 denagn beberapa revisi oleh penulis.


0 komentar:

Posting Komentar

Most Read

Pengunjung

Follow

Hak Cipta Dilindungi AlLah swt. Tidak Dilarang Keras Mengcopy Isi Blog Ini Asal Sumber Disebutkan
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates